Mengelola Konflik Rumah Tangga: Bertahan atau Pergi?

Future Family Project kembali hadir dengan Webinar Series dalam rangka peringatan dua tahun Family Learning Centre (FLC). Pada seri ketiga yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting, Rabu (19/11/25), tema yang diangkat adalah “Mengelola Konflik: Bertahan atau Pergi?”. Acara ini menghadirkan Psikolog, Muhammad Hidayat sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Hidayat menegaskan bahwa konflik merupakan bagian alami dalam hubungan, terutama hubungan pernikahan. “Kita dilahirkan dari keluarga yang berbeda, dibesarkan dengan cara yang berbeda pula, dan membawa nilai serta budaya keluarga yang berbeda. Itu fitrah. Potensi konflik pasti ada,” jelasnya.

Menurutnya, banyak pasangan justru memiliki ekspektasi tidak realistis: ingin menikah tetapi menolak adanya konflik. “Kalau teman-teman mau menikah tapi nggak pengen konfliknya, ya nggak bakal nikah-nikah. Menikah itu satu paket, dengan kelebihan, kekurangan, dan latar belakang masing-masing,” tambahnya.

Hidayat juga menyoroti bahwa dalam psikologi kelompok, konflik justru menjadi tahap penting sebelum hubungan mencapai fase yang lebih matang, yakni fase performing. “Konflik itu bukan selalu destruktif. Konflik ada untuk menguatkan, untuk bertumbuh, agar hubungan semakin kuat,” ujarnya. Ia mengajak peserta webinar untuk melihat konflik bukan sebagai ancaman, tetapi peluang untuk tumbuh bersama.

Konflik yang Berpotensi Mengarah pada Perceraian

Mengutip data dari Ibupedia, Hidayat memaparkan sejumlah konflik yang umum menjadi penyebab perceraian. Masalah keuangan berada di posisi teratas, disusul perselingkuhan, KDRT, kurangnya keintiman, komunikasi buruk, perbedaan prinsip, kecanduan, hingga pernikahan di usia terlalu muda.

Ia menyoroti fenomena meningkatnya pengajuan dispensasi nikah di bawah umur. Sebagai bagian dari MCDI, Hidayat sering menangani asesmen psikologis terkait hal ini. Banyak kasus terjadi akibat Married by Accident atau kehamilan di luar nikah. “Banyak pasangan muda belum siap menghadapi ilmu parenting. Akhirnya konflik muncul dan menjadi lingkaran setan yang terulang di generasi berikutnya,” jelasnya.

Selain itu, Hidayat menjelaskan konflik sering muncul dari ketidakseimbangan peran di rumah tangga. Misalnya, istri yang bekerja dan berpenghasilan lebih tinggi tetapi tetap mengurus seluruh pekerjaan rumah, sedangkan suami kurang berkontribusi. “Ini bisa menimbulkan rasa tidak dihargai dan akhirnya memicu pertengkaran berkepanjangan,” katanya.

Perbedaan tujuan hidup, tekanan karier, tidak memiliki keturunan, dan campur tangan keluarga besar juga menjadi faktor yang memperkeruh dinamika rumah tangga.

Selain itu, Hidayat juga menjelaskan bahwa KDRT memiliki siklus yang berulang: fase ketegangan, fase kekerasan, fase rasionalisasi disertai permintaan maaf, lalu fase tenang. Namun siklus ini jarang benar-benar berhenti.

“Kalau sudah masuk ranah kekerasan, apalagi fisik, itu tidak bisa ditoleransi. Ketika sudah berulang, perlu bantuan untuk memutus siklus tersebut,” tegasnya.

Ia juga menyoroti adanya temuan bahwa korban KDRT memiliki risiko menjadi pelaku kekerasan atau bullying di tempat lain. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan domestik membawa dampak psikologis jangka panjang.

Hidayat menekankan pentingnya korban untuk memiliki rencana penyelamatan diri, mencari dukungan, melapor kepada keluarga atau lembaga terkait, dan tidak menanggung semuanya sendirian. Masyarakat pun diimbau untuk tidak menyalahkan korban, tetapi membantu memberikan perlindungan, pertolongan darurat, dan dukungan emosional.

Hidayat menutup webinar dengan mendorong peserta untuk aktif membangun keluarga yang sehat melalui edukasi, komunikasi, dan keterbukaan. Ia mengapresiasi keberadaan FLC yang terus membuat kampanye dan program intervensi untuk mendukung keluarga Indonesia.

“Konflik tidak selalu tanda untuk pergi. Tapi ada pula konflik yang justru harus menjadi alasan untuk menyelamatkan diri. Yang terpenting adalah kita mampu mengenali perbedaannya,” tutupnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *