Oleh: Farah Fabiola
Era digital membawa kemajuan yang luar biasa terhadap kemudahan dalam mengakses segala informasi, mengekspresikan diri dan berkomunikasi. Namun, di sisi lain perkembangan teknologi juga berdampak negatif pada tekanan psikologis di kalangan remaja.
Paparan media sosisal yang berlebihan, cyberbullying, saling membandingkan, dan kurangnya komunikasi sosal menjai factor pemicu munculnya gangguan mental seperti kecemasan, stress hingga depresi.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada dakwah memiliki peran strategis untuk berkontribusi dalam pencegahan gangguan mental remaja, melalui pendekatan dakwah yang menyejukkan, edukatif, dan relevan dengan tantangan zaman.
Dakwah Muhammadiyah dalam era digital tidak lagi terbatas ceramah-ceramah di masjid, tetapi telah meluas seperti menggunakan media sosial, platform pendidikan dan komunitas daring. Gerakan dakwah digital Muhammadiyah hadir melalui berbagai macam platform seperti TVMu, Suara Muhammadiyah online, media sosial ortom yang secara aktif menyampaikan pesan-pesan keislaman. Konten–konten tersebut bukan hanya berisikan ajakan melakukan ibadah, tetapi dapat juga dapat berisi tentang edukasi mental health Islami.
Peran Dakwah Muhammadiyah dalam Pencegahan Gangguan Mental Remaja
Terdapat beberapa peran yang bisa dilakukan Muhammadiyah sebagai upaya preventif gangguan mental.
1. Memberikan Pemahaman Spiritual yang Menenangkan
Dakwah Muhammadiyah menanamkan nilai tauhid sebagai dasar ketenangan jiwa. Remaja yang memiliki pemahaman spiritual yang kuat akan lebih mampu menghadapi tekanan hidup dengan sabar dan positif. Penguatan akidah dan ibadah membantu membangun coping mechanism yang sehat terhadap stres.
Pimpinan Cabang Muhammadiyah di daerah Sleman sudah memulai dengan program “Spiritual Camp Remaja”. Program ini diadakan untuk remaja–remaja SMA/SMK Muhammadiyah dengan kegiatan yang mencakup tadabur alam, salat tahajud bersama, pelatihan mindfulness Islami dan sharing session tentang makna hidup.
2. Mengedukasi tentang Kesehatan Mental dalam Perspektif Islam
Melalui kegiatan kajian, seminar, dan konten digital, Muhammadiyah memberikan edukasi bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari amanah menjaga diri (hifzhun nafs) dalam maqashid syariah. Hal ini menghapus stigma negatif terhadap gangguan mental di kalangan remaja Muslim.
Beberapa Majelis Tabligh di daerah, seperti Yogyakarta sudah mengadakan kajian khusus antara Al Qur’an, psikologis dan kesehatan mental. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah di beberapa perguruan tinggi juga mulai aktif mengadakan webinar tentang mental health awareness dari perspektif islam yang bekerja sama dengan fakultas psikologi.
3. Menjadi Ruang Aman (Safe Space) bagi Remaja
Lembaga dan organisasi otonom Muhammadiyah seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berperan penting sebagai wadah pembinaan dan dukungan sosial bagi remaja.
Kegiatan keagamaan, mentoring, dan komunitas kreatif memberi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri secara positif dan menghindari isolasi sosial. Kegiatan “Forum Curhat Remaja” oleh Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi salah satu kegiatan yang menjadi ruang aman bagi remaja karena remaja merasa lebih diterima, dipahami dan termotivasi untuk memperbaiki diri.
4. Menghadirkan Dakwah Digital yang Empatik dan Humanis
Dakwah Muhammadiyah di era digital perlu menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakter remaja masa kini. Pendekatan empatik, dialogis, dan berbasis psikologi positif menjadi strategi efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman tanpa menghakimi, melainkan merangkul. Contohnya adalah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang memiliki podcast yang membahas isu kesehatan mental dengan narasumber psikolog dan ustaz muda Muhammadiyah.
5. Kolaborasi antara Dai, Psikolog, dan Pendidik Muhammadiyah
Banyak sekolah dan universitas Muhammadiyah telah mulai mengintegrasikan pendekatan psikologi Islam dalam pendidikan dan bimbingan konseling. Kolaborasi ini memperkuat peran dakwah sebagai sarana preventif dalam menjaga keseimbangan mental remaja.
Beberapa Muhammadiyah di wilayah, seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah membentuk pusat layanan konseling Islami di bawah Majelis Tabligh dan Majelis Dikdasmen. Layanan ini melibatkan dai, psikolog, dan guru Muhammadiyah dalam membantu masalah remaja dengan pendekatan spiritual dan psikologis.
Agar peran dakwah dapat dilaksanakan secara maksimal maka diperlukan penguat tokoh muda Muhammadiyah dalam bidang psikologi dan dapat melakukan pengembangangan literasi digital agar pesan dakwah Muhammadiyah dapat bersaing dengan konten-konten lain di dunia maya. Keluarga juga diperlukan dalam mendukung aspek psikologis dan literasi digital agar tokoh Muhammadiyah dapat melaksanakan peran dakwahnya secara maksimal di era digital.

