Milad 2 Tahun, FLC Gelar Webinar: Bahas Pola Hubungan Sehat Anak Muda

Dalam rangka merayakan dua tahun perjalanan Family Learning Center (FLC), FLC menyelenggarakan rangkaian program Future Family Project bertema “Relasi Sehat, Generasi Kuat.” Salah satu agenda utama adalah Webinar Series yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting.

Pada Webinar Series 2 bertema “Are You the One for Me?” FLC menghadirkan Psikolog Faza Maulida, pada Jumat (14/11/25). Kegiatan yang menyasar remaja dan dewasa awal ini membahas cara mengenali diri dalam hubungan serta ciri-ciri relasi yang sehat sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Dalam pemaparannya, Faza mengawali materi dengan mengajak peserta mengenali pola kelekatan (attachment style) yang terbentuk sejak kecil dan memengaruhi cara seseorang berelasi. Menurutnya, Attachment style itu dipelajari sejak kecil dari pola asuh orang tua. Ia terbawa sampai dewasa dan menentukan respons seseorang terhadap konflik.

Ia kemudian menjelaskan adanya pola avoidant, anxious, dan secure. Misalnya, individu dengan avoidant attachment cenderung menarik diri saat menghadapi masalah. “Kalau ada masalah dan kita cenderung kabur atau ghosting, itu tanda kita punya pola menghindar,” jelasnya.

Sementara itu, individu dengan pola anxious biasanya sangat sensitif terhadap respons orang lain. “Orang yang anxious sering kali overthinking kalau pesan tidak dibalas. Langsung merasa salah padahal mungkin lawannya hanya butuh istirahat,” tambahnya.

Faza kemudian mengajak peserta mengevaluasi cara mereka memperlakukan diri sendiri. Menurutnya, hubungan yang sehat tidak bisa dimulai tanpa penghargaan terhadap diri sendiri. Jika masih mudah menyalahkan diri, mengkritik diri dengan keras, menurut Faza, itu akan terbawa juga dalam hubungan.

Selain itu, regulasi emosi menjadi aspek penting. Ia mengingatkan bahwa banyak orang yang belum dapat mengenali perasaan dasar yang muncul ketika terluka. “Sebelum bisa meregulasi emosi, kita harus bisa mengenali dulu: ini marah, ini kecewa, ini takut. Tanpa itu, kita akan sulit merespons konflik dengan tepat,” kata Faza.

Walau chemistry sering menjadi alasan awal seseorang memilih pasangan, Faza menekankan bahwa hal itu tidak cukup untuk hubungan jangka panjang. Kata Faza, chemistry penting untuk menyalakan hubungan, tapi compatibility-lah yang menjaga hubungan tetap menyala.

Compatibility meliputi keselarasan nilai, visi hidup, kebiasaan, dan kemampuan tumbuh bersama. Faza memberi contoh bahwa perbedaan arah pertumbuhan bisa membuat pasangan kehilangan sparks. “Kadang lost sparks muncul karena dua orang tumbuh ke arah yang berbeda. Ini wajar, tapi perlu dievaluasi bersama,” ujarnya.

Di akhir materi, Faza memaparkan lima ciri hubungan sehat: rasa aman secara emosional, ruang menjadi diri sendiri, komunikasi terbuka, kemauan memperbaiki diri, dan relasi yang menumbuhkan. Sebaliknya, ia mengingatkan peserta untuk waspada terhadap tanda bahaya seperti manipulasi emosional.

“Kalau dia yang salah tapi kamu selalu dibuat merasa bersalah, itu red flag. Misalnya ancaman seperti ‘kalau kamu nggak maafin aku, aku bakal nyakitin diri’, itu bentuk manipulasi,” tegasnya.

Webinar kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Banyak peserta berbagi pengalaman mengenai kecemasan dalam hubungan, dinamika komunikasi, hingga cara mengenali pasangan yang cocok secara nilai. (sa)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *